Home > Opini > Miyabi dan Konstruksi Image

Miyabi dan Konstruksi Image

October 15th, 2009

statistik miyabiPerdebatan akan datang tidaknya Maria Ozawa (aka. Miyabi) berakhir sudah. Hal ini dipungkasi oleh pernyataan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ad interim Muh. Nuh yang melarang kedatangan Miyabi ke Indonesia.

Bagi beberapa kalangan yang sejak awal menolak, berita ini bagaikan oase segar di tengah himpitan bencana yang tak henti mendera. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu kata pepatah itu yang bisa menggambarkan kondisi negeri ini. Belum selesai penanganan bencana di Jawa Barat bagian selatan, kini Sumatera Barat yang mendapat giliran lampu merah. Ironisnya, di tengah semua itu bisa-bisanya ada oknum yang tega memancing kontroversi dengan mendatangkan Miyabi.

Rasanya tak perlu saya jelaskan panjang lebar siapa Miyabi. Informasi tentangnya meluber lewat Google. Bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana seharusnya kita menanggapi rencana (awal) kedatangannya. Apakah patut ditolak atau justru harus disambut dengan ramah layaknya selebritis kelas dunia lainnya?

Yang perlu saya garisbawahi pertama kali di sini adalah image. Aristoteles pernah mengungkapkan bawah, “We are what we repeatedly”, kita adalah wujud dari apa yang selalu kita kerjakan. Kita akan dinilai orang lain atas dasar apa yang sering kita lakukan. Metafornya sederhana, ketika saya sering bercanda, maka orang lain pun akan melihat saya sebagai sosok yang humoris. Ketika seseorang senang berbohong, maka wajar bila orang melihat anda sebagai orang yang tak dapat dipercaya. Atau dalam bahasa bahasa analisis semiotika, dikenal dengan istilah signifier dan signified. Pada tataran ini, Miyabi adalah signifiernya, atau teksnya, sedangkan bintang porno adalah signifiednya, atau konsep yang menyertainya. Signifier dan signified adalah dua konsep yang tak dapat dipisahkan. Sehingga membicarakan Miyabi akan melahirkan konsepsi di kepala kita akan bintang porno. Miyabi adalah seseorang perempuan biasa, namun dia adalah seseorang yang memiliki image sebagai bintang porno. Tidak ada yang bisa menyalahkan konsepsi image ini menurut saya.

Lagipula, andai kita ingin menelisik lebih jauh, sebenarnya apa sih yang membuat Maxima Pictures (Production House film Menculik Miyabi) memilih Miyabi untuk menjadi bintang filmnya?

Bila ukuran cantik masih banyak aktris Indonesia yang sama cantiknya, atau bahkan jauh lebih cantik. Bila ukuran kemampuan akting, film porno dari segi sinematografi bukanlah film yang menonjolkan kemampuan akting, cukup ukuran fisik yang jadi parameter.

Alasannya, tentu tidak jauh-jauh dari imagenya sebagai superstar film porno. Nama besarnya adalah magnet bagi para penggemarnya di Indonesia (catatan: penggemar Miyabi paling besar justru ada di Indonesia). Miyabi adalah sinonim dari seorang bintang film porno. Motif inilah yang dikejar oleh produsernya. Sehingga, meskipun ia datang untuk bermain film komedi, saya tak yakin image-nya sebagai bintang porno akan dilupakan orang.

Buktinya sederhana, penjualan VCD porno yang dia bintangi melonjak drastis di beberapa pusat penjualan. Masyarakat yang sebelumnya tidak tahu-menahu, kini ikut-ikutan untuk memburunya. Naudzubillah min dzalik. Mohon dicatat lagi, kondisi ini terjadi saat kedatangannya baru sebatas wacana. Saya tak dapat membayangkan apa jadinya bila ia benar-benar datang.

Kasus ini mirip dengan kasus Playboy beberapa tahun lalu. Pada awalnya, mereka memaksa untuk masuk ke Indonesia sembari meyakinkan khalayak bahwa di Indonesia mereka hanyalah majalah lifestyle semata. Tetap saja muncul banyak penolakan. Karena apa? Karena yang sebenarnya kita tolak bukan hanya content Playboy-nya (dalam hal ini produk pornografinya). Akan tetapi, juga imageĀ­nya identik dengan pornografi. Pada titik ini, image dan substansi berkelindan erat, tak mungkin dapat dipisahkan.

Bagi saya, kita harus menilai sesuatu secara utuh, tidak terpisah-pisah. Saya dan anda tentu tak hanya menilai seseorang sebatas tampilan fisik, namun juga apa yang telah dia lakukan selama ini, karena di situlah konstruksi imagenya di mata orang lain.

Nashrun minallah wa fathun qariib.

oleh M. Zulfi Ifani

Opini , , ,

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.