Home > Informasi, Inspirasi > Keripik Kimpul Karisma

Keripik Kimpul Karisma

June 21st, 2009

Bagi kebanyakan orang, umbi kimpul (Xanthosoma Sp.) masih dipandang sebelah mata keberadaannya. Umbi kimpul belum banyak dimanfaatkan untuk dikonsumsi manusia dan hanya dijadikan makanan hewan ternak. Namun, kimpul yang awalnya dianggap tidak bernilai guna, kini mampu menjadi produk makanan bernilai jual tinggi. Ya, di tangan dua orang mahasiswa UGM, Muhammad Tholabuddin, Jurusan Administrasi Negara, Fisipol, dan Arini Kusumaningtyas, Jurusan Teknologi Industri Pertanian, kimpul disulap menjadi keripik yang cukup lezat dan berdaya jual tinggi.

Keripik kimpul bahkan mampu mengantarkan keduanya meraih juara I nasional dalam kompetisi “Shell Livewire Business Start Up Award 2009”.

Dua mahasiswa muda ini berhasil menyisihkan 300 peserta wirausahawan usia 18-32 tahun se-Jawa dan Bali pada lomba yang digelar oleh Shell beberapa waktu lalu. Selain mereka, terdapat pula 9 orang lainnya yang dinyatakan sebagai wirausahawan muda. Kesepuluh orang ini terpilih menjadi finalis setelah berhasil menyingkirkan 14 orang dari hasil seleksi 300 peserta yang mendaftar.

Proses pembuatan keripik kimpul yang diberi label “Blue Taro Chip” ini bermula dari kegiatan praktikum Perencanaan Proyek Industri (PPI) di Jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIP) UGM. Selanjutnya, dengan bermodal 25 juta rupiah, dilakukanlah pengembangan lebih lanjut menjadi suatu unit bisnis yang prospektif.

Disampaikan Tholabuddin, alasan pemilihan kimpul untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai jual, antara lain, untuk memanfaatkan kimpul yang merupakan produk lokal dan belum pernah dibudidayakan, tetapi terbukti memiliki kandungan gizi tinggi. Di samping itu, tujuan lainnya adalah untuk memberdayakan masyarakat setempat.

“Blue Taro Chip ini merupakan makanan ringan organik sehingga tiap orang yang mengonsumsinya tidak perlu merasa khawatir akan adanya pestisida di dalamnya. Bahan baku kimpul merupakan tanaman sampingan di daerah lahan kering yang biasanya tidak perlu membutuhkan perawatan atau tidak terkena sentuhan pestisida sama sekali. Selain itu produk Blue Taro Chip ini juga aman dikonsumsi bagi penderita diabetes karena kandungan gulanya yang rendah,” jelas Tholabuddin kepada wartawan, Selasa (16/6) di Fortakgama UGM.

Blue Taro Chip yang digawangi kedua anak muda ini mulai diluncurkan di pasaran mulai Januari 2009 silam. Di bawah naungan Karisma Food Magelang, tiap bulannya mereka mampu memproduksi lebih dari 1 ton dan menghasilkan omzet 50 juta rupiah per bulan, dengan keuntungan bersih sekitar 20 juta rupiah. Rencananya, mulai Juli depan produksi akan ditingkatkan menjadi 3 ton per bulan dan terus berusaha memperluas dan mengembangkan jaringan pemasaran.

Lebih lanjut dikatakan mahasiswa kelahiran 25 tahun lalu ini, produknya terpilih menjadi pemenang I dalam kompetisi yang digelar Shell karena memiliki beberapa keunggulan. Beberapa di antaranya adalah mampu menyerap tenaga kerja dan proses produksi yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Hingga saat ini, Karisma Food Magelang telah menyerap sebanyak 40 tenaga kerja dalam proses pembuatan Blue Taro Chip. Ditambahkan Tholabuddin, mulai Agustus tahun ini ditargetkan perbaikan dalam pengemasan. “Selama ini pengemasan masih dilakukan secara manual. Jadi, ke depannya kami menargetkan menggunakan alumunium foil untuk kemasannya,” tuturnya.

Proses pembuatan keripik kimpul melalui serangkaian tahapan yang tidak sulit. Diawali dengan melakukan pengupasan, umbi kemudian dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan getah ataupun kotoran yang menempel sebelum diiris. Setelah itu, umbi dicuci lagi dan ditiriskan. Berikutnya, umbi digoreng dan ditiriskan lagi untuk kemudian disortir. Tahap akhir sebelum dilakukan pengemasan, terlebih dahulu keripik diberi bumbu dengan berbagai rasa, yakni rasa jagung manis, jagung bakar, keju, barbeque, dan original. Keseluruhan proses tersebut masih dijalankan secara manual.

“Untuk menghasilkan 1 ton produk keripik kimpul kering dibutuhkan kurang lebih 3-4 ton umbi kimpul dan dalam sehari kami mampu memproduksi 2 kwintal keripik kimpul kering,” imbuh Arini.

Sementara untuk perolehan bahan baku, diakui Arini tidak ditemui kesulitan yang berarti. Bahan baku kimpul cukup mudah diperoleh di pasaran, seperti dari daerah Magelang, Temanggung, dan Sawangan. Di tempat-tempat itulah produksi pembuatan Blue Taro Chip berlangsung. Saat ini kantor pusat dan sentral produksi menempati sebuah bangunan yang berada di Jalan A. Yani Magelang. Sementara itu, juga telah dibuka kantor cabang pemasaran di Jakarta, Bandung, dan Medan.

Ditambahkan Arini, satu bungkus keripik kimpul dengan berat bersih 100 gram yang dijual seharga 5 ribu rupiah ini cukup laku keras di pasaran. Hal tersebut disebabkan belum adanya kompetitor produk sejenis yang muncul di pasar menengah-atas. “Di Bandung produk kami cukup diterima dan laku keras di pasaran. Dalam satu bulan 1 ton Blue Taro Chip langsung habis terjual. Target selanjutnya kami akan mulai berusaha menembus pasar di Jogja dan tentunya bisa ekspor dan menembus pasar internasional,“ ujar gadis berusia 20 tahun ini. (Humas UGM/Ika

*dikutip dari web UGM

Informasi, Inspirasi , , ,

  1. al munafiqun
    August 5th, 2009 at 12:36 | #1

    Wah mantan kajur TIP (Wahyu purwanto) yang dipecat pasti nyesel to

  2. August 6th, 2009 at 15:20 | #2

    Apakah ini yang berproduksi di Peniten itu?

  3. rifaus saparto
    September 7th, 2009 at 22:59 | #3

    ayo terus maju kembangkan bisnismu semangat dong jangan kalah ama yang lain , saingi produknya non muslim or negara lain

  4. rohmad
    November 8th, 2009 at 19:50 | #4

    askum ,,,,,,,,,,,,,,, wah + sksesja ea ms, Q ttip slamm ja wat mas2 trc & kec

    keep moving foreward !!!!!

    o ea lo bleh q mnt fbny ms2 trc!

  5. December 14th, 2009 at 10:16 | #5
  6. December 14th, 2009 at 10:28 | #6

    Link berita lagi..

    Berita Fisipol UGM

    Berita Kompas

  1. No trackbacks yet.