Dahulu Pernah Langganan…
Bisa dikatakan media massa kini telah menjadi sahabat dekat bagi banyak orang. Produk media massa, dalam hal ini informasi, tak lagi menjadi sekedar hasrat ataupun keinginan melainkan telah menjadi kebutuhan, artinya harus dipenuhi. Bahkan, saya yakin ada segelintir orang yang tanpa ditemani media massa di pagi harinya, akan merasa terasing di sisa harinya, seakan-akan terbuang ke negeri antah berantah.
Nah, sebagai orang yang selalu ingin tahu, apalagi notabene masih mahasiswa. Secara tidak langsung pun, saya selalu mengkonsumsi media massa secara rutin. Beberapa tahun lalu, ada beberapa media massa yang sempat saya favoritkan untuk dibeli, atau minimal dibaca meski harus meminjam.
Sabili
Dahulu sekali saya selalu berlangganan majalah dwi-mingguan ini. Bisa dikatakan, majalah ini merupakan majalah Islam terpopuler dan juga terbesar oplahnya di Indonesia. Fokusnya cukup detail dan tidak terbatas hanya masalah ibadah. Sabili justru mengangkat permasalahan sosial, ekonomi, maupun politik sebagai bahan utamanya. Saya mulai berlangganan majalah ini sejak SMA kelas 1. Diakui memang, Sabili cenderung diidentikkan dengan majalah Islam garis keras. Hemat saya, hal itu tidaklah sepenuhnya salah, karena memang dalam pandangan awam content Sabili tentu terlihat begitu to the point dan menohok. Masalah garis keras ini pula yang membuat pemerintah Amerika menaruh perhatian pada pemberitaan Sabili. Bahkan, dalam sebuah pemberitaan, sangat diyakini koleksi Sabili amat lengkap ditemukan di perpustakaan Kongres. Subhanallah… kira-kira untuk apa ya?
Akan tetapi, saat masuk ke bangku kuliah akhirnya saya memutuskan untuk tidak berlangganan kembali. Meski sedih, tapi saya punya perhitungan sendiri dan Insya Allah saya tak akan kekurangan wacana dan informasi ke-Islam-an yang saya miliki.
Soccer
Seperti namanya, tabloid ini membahas segala hal dari dunia sepakbola. Tabloid ini terbit seminggu sekali pada hari Jumat. Sebenarnya, sebelum berlangganan Soccer saya terlebih dahulu berlangganan tabloid sepakbola sejenis, Bola. Setelah menimbang-nimbang, saya akhirnya lebih memilih Soccer. Hemat saya, Soccer lebih berbobot bahasannya, belum lagi selalu ada tema-tema spesifik yang diangkat pada tiap edisinya. Kedua hal tersebut yang menghipnotis saya selama beberapa tahun untuk berlangganan.
Sayang, beberapa bulan ini akhirnya saya pun berhenti berlangganan. Alasan yang tidak jauh berbeda dari kasus Sabili di atas, terlalu banyak pertimbangan dan adanya media subtitusi yang menjadi penyebab.
Kini, pasca tak berlangganan lagi kedua media tersebut. Saya mencoba untuk selalu mengakses internet untuk mendapatkan informasi dunia Islam (subtitusi Sabili) dan juga berbagai situs bola (subtitusi Soccer). Yah, namanya mahasiswa apa boleh buat, segala hal berbentuk pengeluaran tentu harus diperhitungkan dengan matang. Dan, pilihan ini amat berkaitan pula dengan akses internet yang lebih mudah dan murah didapatkan (hanya dengan bermodalkan sahabat setia saya: Acer 4710), saya bisa memuaskan dahaga akan informasi… Alhamdulillah.
Nah, tentu anda punya kenangan akan media massa tertentu bukan? Yang kini pasca meledaknya akses internet, justru anda tinggalkan.
by admin
Komentar Terakhir