Dia yang Tak Pernah Kembali
Menjelang 1 Muharram 1430 Hijriah ini, saya tiba-tiba merasa rindu, sangat rindu, dengan almarhumah nenek saya. Setahun yang lalu, akhir tahun 2007, Beliau sedang menghadapi masa kritis di rumah sakit. Beliau mengalami kondisi yang fluktuatif karena tumor hati yang ia derita. Setelah drop dan dirawat di ICU selama dua malam, akhirnya nenek saya dipanggil Allah. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Nenek saya “pulang” di usia 72 tahun pada hari Minggu, 6 Januari 2008 sekitar pukul 03.00 WIB.
Setelah saya renungkan, baru saya sadar bahwa sepanjang 2008 ini banyak kejadian istimewa yang saya alami. Mulai dari pulangnya nenek saya pada awal tahun, kemudian ketika harus semangat dalam belajar untuk menghadapi UN dan UAS, juga ketika mendapatkan kabar bahwa teman satu angkatan saya telah dipanggil oleh Allah dalam sebuah kecelakaan. Hanya beberapa hari menjelang pengumuman kelulusan UN dan UAS. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
Tahun ini pula, saya mengalami sebuah “wisuda” SMA, yang membuka pintu menuju babak baru dalam hidup saya. Saya belajar untuk menentukan pilihan, membuat sebuah keputusan. Pertama dalam hidup saya, saya melakukan shalat istikharah karena dihadapkan pada pilihan yang sulit saya tentukan. Alhamdulillah, semuanya dilancarkan oleh-Nya.
Masih banyak peristiwa yang “ternyata” telah saya alami sepanjang tahun ini. Yang membuat saya bahagia, membuat saya tertegun, membuat saya menangis, membuat saya melakukan perubahan-perubahan.
Ya, saya harus berubah. Berubah menjadi seseorang yang sesuai dengan kondisi yang saya alami. Berubah menjadi seseorang yang lebih “mengerti” setelah “mengalami”. Berubah menjadi seseorang yang seharusnya lebih baik daripada sebelumnya. Menjalani setiap detik baru yang terbit di atas detik sebelumnya.
Assalamu’alaikum
slam ukhuwah akhi,,,,
benar sekali,, waktukan terus berlalu dan takkan pernah kembali, sebelumnya menyesal kemudian, mari kita coba manfaatkan dengan sebaik-baiknya. keep spirit.
salam kenal kami .. aktivis02…