Home > Opini > Mengamati Fenomena Mendadak “Alim” di Televisi

Mengamati Fenomena Mendadak “Alim” di Televisi

September 14th, 2008

 

“Seperti biasa, stasiun televisi swasta berbusa-busa menyambut bulan ramadhan. Memang televisi cuma mau cari duit saja”. (Arswendo Atmowiloto)

 

Bagi para pencinta film Indonesia, tentu masih ingat dengan film Indonesia yang dibintangi oleh Titi Kamal dan Kinaryosih yang berjudul “Mendadak Dangdut”. Judul ini berkorelasi langsung jalan cerita film ini. Di film tersebut Titi Kamal berperan sebagai seorang penyanyi pop terkenal yang mendadak harus melarikan diri karena difitnah menjadi pengguna narkoba. Dalam pelarian tersebut, secara kebetulan dan juga terpaksa dia harus menjadi seorang penyanyi dangdut kampung.

 

Jadi, dalam film tersebut ada dua kata kunci yang menjadikan Titi Kamal harus berdangdut ria, yaitu kebetulan dan terpaksa. Dua analogi inilah yang saya angkat untuk menjelaskan realitas sebagian besar stasiun televisi di Indonesia, khususnya selama bulan Ramadhan. Jika dalam film Mendadak Dangdut, Titi Kamal harus menyelamatkan diri dengan menjadi pedangdut, maka di bulan Ramadhan stasiun-stasiun televisi harus menyelamatkan diri mereka dengan mendadak alim, mengikuti keinginan pasar.

 

Rating sebagai tuhan

Disadari atau tidak, televisi saat ini memang menjelma menjadi sebuah kotak hiburan yang ajaib. Televisi mampu menawarkan impresi hiburan yang lebih baik dari media apapun. Bahkan fungsi hiburan ini begitu kental, melebihi fungsi pendidikan dan informasi misalnya. Hingga Neil Postman pun dengan satirnya menyebut sifat televisi yang “menghibur diri sampai mati”.

 

Fungsi hiburan ini tidak berdiri sendiri, melainkan amat bergantung pula pada parameter keinginan masyarakat. Sebuah parameter yang mampu menerjemahkan keinginan dan minat masyarakat akan sebuah model program pada suatu waktu tertentu. Di sinilah rating, rating kuantitatif tepatnya, menempati posisi penting dalam industri hiburan televisi. Dia menjadi semacam petunjuk ke arah mana industri televisi harus melangkah. Atau bahkan dalam bahasa yang sedikit ekstrim, rating telah menjadi tuhannya stasiun televisi.

 

Inilah premis awal yang harus kita pahami, bahwa stasiun televisi menempatkan rating sebagai tuhan. Sederhananya, apapun yang dikehendaki pasar, itulah yang akan ditampilkan di layar kaca. Sehingga amat wajar bila stasiun televisi pun berlomba-lomba terus mencari format program yang diinginkan pemirsa, bahkan meski sampah sekalipun.

 

Tidak mengherankan bila kini stasiun-stasiun pun beramai-ramai melakukan make-over selama Ramadhan. Saat program-program bernafaskan Islam sedang booming, mereka pun melakukan berbagai “penyesuaian diri”. Ada yang secara halus menyesuaikan programnya agar terlihat Islami. Namun, tak jarang pula berbagai program khusus Ramadhan sengaja disiapkan demi Ramadhan. Pilihan kedua inilah yang lazimnya diidolakan stasiun-stasiun televisi di Indonesia.

 

Kini, tidak terhitung lagi ada berapa banyak program islami yang hadir menghiasi layar kaca kita. Mulai dari program sahur dengan lawakan-lawakan absurd, sinetron-sinetron ramadhan yang “ternyata” hanya menjual judul yang Islami, kuis-kuis Ramadhan, bahkan infotainment pun ikut-ikutan islami.

 

Perubahan drastis seperti ini tentu mengundang perdebatan. Salah satu humas stasiun televisi swasta misalnya, menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi dakwah dan syiar Islam juga. Agar dakwah dan syiar selama Ramadhan semakin semarak misalnya.

 

Niat yang cukup mulia, meski muncul juga pertanyaan kenapa program-program sebagus ini akan menghilang sama sekali pasca Ramadhan. Realitas yang mengindikasikan posisi rating  sebagai tuhan memang terbukti. Bahwa ramadhan memang dijadikan momentum magnetis untuk menarik pemirsa sebanyak mungkin.

 

Mereka juga ikut-ikutan?

Tak berhenti di stasiun televisi. Elemen-elemen yang sering menghiasi layar kaca pun turut serta mendadak alim. Artis misalnya, sebagai publik figur tentu mereka tak ingin tampil “biasa” di depan pemirsa. Harus ada sesuatu yang bisa mereka tonjolkan. Momentum Ramadhan ini lah yang mereka gunakan untuk menonjolkan diri. Penggunaan busana Islami, lafadz-lafadz Islami dan bakti sosial misalnya jadi penjelas indikasi tersebut. Kesemua hal tersebut secara tidak langsung tentu amat membantu mengkatrol popularitas mereka.

 

Selain, kalangan artis. Para penyanyi dan grup band juga mengalami fenomena ini. Bukti paling konret dapat dilihat lewat belasan bahkan puluhan album religi (baca: Islami) yang dirilis pada bulan Ramadhan ini. Pada kasus ini, memang ada beberapa musikus yang memiliki spesialisasi album Ramadhan, namun tidak sedikit pula yang latah karena melihat potensi pasar album religi yang ternyata sangat besar. Bahkan, musikus tipikal kedua ini jauh lebih banyak dari tipikal yang pertama.

 

Kesemua hal di atas begitu dilematis. Di satu sisi, syiar Islam menjadi makin semarak. Sedangkan, patut disayangkan pula bila melihat subyek dakwah (baca: dai) yang belum bisa dijadikan teladan. Mengingat kebanyakan dari mereka seringkali hanya menggunakan momentum ramadhan untuk “alim” sejenak, kemudian kembali menjadi lazimnya artis di lain waktu.

 

Opini ini memang terkesan amat menghakimi. Namun, saya berinisiatif untuk menyentil kesadaran kita akan realitas media, khususnya dalam tataran dakwah. Bahwa dakwah adalah tuntunan, bukan tontonan. Dakwah lewat media, khususnya televisi, tidak boleh sekedar menghibur pemirsa dengan hal-hal yang berbau hiburan. Namun, juga pada tataran yang serius untuk mendidik tanpa lupa juga tetap menjaga konsistensinya di bulan-bulan lain.

 

Oleh Admin

 

 

Opini , , , ,

  1. October 7th, 2008 at 11:05 | #1

    Islami yang mana?hanya simbolis saja kok, seperti kerudung, pecis,baju koko,masjid,dll. Eh tapi ada lho salah satu stasiun televisi swasta yang selain mendadak alim, tapi juga ternyata bermutu lho seperti SCTV yang menayangkan SineRam PPT 2, Metro TV bisnis syariah, ensiklopedi Islam, nah aku salut!

  1. No trackbacks yet.