Home > Kisah > Belajar Tidak Perduli Umur

Belajar Tidak Perduli Umur

July 29th, 2008

Beberapa waktu lalu, saat diriku melakukan perjalanan pulang Jogja ke Magelang (seperti biasa dink). Sebenarnya, ini bukan jadwalku pulang, tapi berhubung ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan di rumah, sehingga pulang ke rumah kemudian jadi mendesak.

Berhubung dari Jogjanya jam 5 sore (habis kuliah), jadi aku harus berhenti di tengah jalan utk solat maghrib. Sebenarnya ga di tengah jalan sih, karena udah masuk daerah Magelang (tepatnya di daerah pasar gotong royong). Di sana aku berhenti sejenak di sebuah masjid.

Waktu udah menunjukkan pukul 6 sore, anehnya masjid masih melompong? Emang belum adzan maghrib mungkin. Aku pun masuk masjid tanpa lupa berwudhu dahulu. Subhanallah, begitu masuk utk niat shalat sunnah aku menemukan sebuah pemandangan yang cukup inspiratif: di pojok masjid ada seorang kakek2 yang sedang membaca Al Qur’an sendirian. Yang menjadi masalah bukan kakek2nya, tapi dia ternyata belum lancar membaca, artinya dia sedang belajar membaca. Aku menjadi terharu waktu dia berulang-ulang kali salah tapi tetap terus bersemangat utk melanjutkan tadarusnya. Salut! Entah, mungkin jika aku yang jadi dia pada umur setua itu aku “mesti malu” utk memulai pembelajaran tsb. Lebih salutnya, ternyata dia juga maju menjadi muadzin, penampilannya menurutku cukup baik. Hebat kek!

Mungkin, aku terlalu underestimate utk mengatakan kakek itu sedang belajar membaca Al Qur’an. Tapi, kalo dilogika tidak mungkin juga ada kakek yang sedang belajar membaca Al Qur’an kan? Paling tidak jika dia rutin membaca tentu di umur segitu dia sudah lancar. Aku melihat membaca Al Qur’an tidak beda dengan saat awal kita belajar membaca huruf latin: butuh keuletan utk terus berlatih secara rutin hingga akhirnya lancar. Intinya apa? Tidak ada kata mustahil utk tidak bisa lancar membaca selama dirutinkan. Iya ga? (ada yg protes??)

Aku melihat banyak dari kita yang merasa pintar dari bertambahnya umur. Padahal tidak otomatis kan? Kepintaran kan ga cuma aspek dalamnya pengalaman, tapi lebih luas dengan aspek2 ilmu, wawasan, jaringan pertemanan, dsb. Jadi, tidak otomatis jika yang lebih muda lebih bodoh dan hanya menjadi pendengar saja. Mungkin seperti sebuah iklan ” Belum Tua, Belum Boleh Bicara” hehe… mari kita menghormati orang karena ilmunya, bukan tuanya…. Sepakat?

Bertambahnya umur tidak berarti pengurangan intensitas belajar, malah sebaliknya kita harus terus menambah wawasan keilmuan yang kita miliki. Agar apa?  ilmu yang luas ini dapat dimanfaatkan oleh masy yang luas juga, beda dg ilmu yang sempit: siapa yang mau gunakan? Bukankan ada sabda nabi : ” Sebaik2  manusia adl manusia yg paling bermanfaat”. Nah, pertanyaannya: sampai kapan kita tetap “tidak bermanfaat” ? apakah sampai ajal menjelang kita akan terus-menerus “tidak bermanfaat”?

By admin

Kisah , ,

  1. ka. PU
    August 8th, 2008 at 10:39 | #1

    siip sepakat, Zul!

    tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat..
    jangan malu untuk menuntut ilmu walau umur kita (menurut anggapan orang) sudah tidak pantas lagi untuk menuntut ilmu…
    SEMANGAT!!!

    Betul, sepanjang nafas masih di badan,,,, mari kita terus menuntut ILMU

  2. Lilik
    August 11th, 2008 at 21:17 | #2

    Yupz.. setuju banget… belajar kapanpun, n dimanapun. semoga kita jadi orang yang berderajat tinggi dengan ilmu.

  3. puji
    September 10th, 2008 at 13:14 | #3

    sepakat… otak yang sehat adalah otak yang diberi asupan ilmu yang banyak!!!

  4. September 11th, 2008 at 05:08 | #4

    Kata Ustadzku, Membaca itu mirip menggunakan kacamata minus. Kita pada dasarnya mengalami penyakit minus semua, sehingga tidak dapat melihat hal-hal yang jauh dari kita. Sehingga dengan menggunakan kacamata minus, kita dapat melihat hal-hal yang jauh.

    Nah, seperti itu pula manfaat membaca

  5. id_sweeperz
    September 16th, 2008 at 13:21 | #5

    tjah karisma haroes jadi oerang berilmu……

  1. No trackbacks yet.