Home > Kisah > 1,5 Tahun

1,5 Tahun

July 18th, 2008

Desa Akalemo, Kecamatan Sahu, Kabupaten Halmahera Barat, itulah alamat Ibu Armi Gorontomole. Salah satu responden untuk penugasanku 1,5 tahun yang lalu. Desa Akalemo bukanlah tempat yang mudah dicapai. Untuk mencapai Desa Akalemo dari Manado harus menempuh rute sebagai berikut : naik pesawat ke Ternate selama 45 menit, kemudian transit selama sehari di Ternate untuk menunggu speedboat esok hari.

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan dengan speed boat dari Ternate ke Jailolo selama 30-45 menit, dan terakhir naik ojek dari Jailolo ke Desa Akalemo, Kecamatan Sahu selama 30-45 menit. Jika ditotal, waktu tempuh Manado Akalemo sekitar 2 hari.

Kepulauan Maluku Utara merupakan kepulauan yang eksotis. Sehingga, menjelajahi Maluku Utara memberikan rasa yang berbeda. Rute Perjalanan yang harus ditempuh untuk menjelajahi Maluku Utara paling tidak harus melalui rute laut dan darat sekaligus. Perjalanan melalui udara akan menyuguhkan pemandangan yang memberikan makna harfiah bagi kiasan zamrud Katulistiwa. Pulau-pulau nan hijau dikelilingi dengan pantai pasir putih serasa sangat menggoda untuk menapakinya.

Jika menempuh rute laut maka gelombang ombak terus mengiringi nyanyian “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” yang membahana di relung-relung dada. Gegap gempita itu ditambah dengan birunya laut dan langit yang menyatu di horizon kan berubah menjadi putih, kuning, jingga di waktu sore menjadi pemandangan yang syahdu hingga nampaklah lintasan-lintasan film “Deep Blue Sea”. Rute darat pun tak kalah indah. Pasir putih yang belum terjamah turis dan barisan nyiur meliuk-liuk gemulai menjamu kedatangan siapa saja di pantai. Semakin ke pedalaman, hutan hujan tropis yang kaya dengan flora dan fauna dengan setia menyuplai udara segar sepanjang hari.

Keindahan kepulauan Maluku Utara tidak memihak bagi sebagian penduduk di sana, dan tidak memihak juga bagi Bu Armi. Dibelakang rumah sambil minum teh hangat dan makan pisang goreng sembari menikmati pantai pasir putih dan laut luas, Ibu Armi bercerita mengenai kesehariannya. Ibu Armi adalah seorang guru SD di Desa Taruba. Desa Taruba merupakan desa yang terpencil sehingga akses ke desa itu hanya dengan berjalan kaki atau naik perahu ketinting. Alternatif berjalan kaki menuju Desa Taruba merupakan alternatif yang paling gampang dan murah, pokoknya bisa mencakup aspek ekonomis, efesien dan efektif lah. Sedangkan menggunakan perahu Katinting tidak lah ekonomis karena selain sangat amat terbatas, tidak ada perahu katinting plat kuning apa lagi plat merah.

Nah, untuk melaksanakan tugas sebagai guru Ibu Armi pergi pulang berjalan kaki dari rumah ke SD Taruba setiap hari. Perjalanan yang menjadi rutinitas sehari-hari itu tidaklah gampang. Seakan rute halang rintang atau seperti perjalanan outbond, jalan menuju Desa Taruba dipenuhi dengan halangan yang menghadang. Medan pun beragam. Sebagian medan berbukit-bukit tandus, kemudian diselingi hutan dan ada pula yang harus menyusuri pantai. dan untuk menempuhnya pun hanya memakai sandal jepit.

Dari sekian hadangan yang harus dilewati ada dua hadangan yang menyulitkan. Hadangan yang pertama, ular. Binatang melata ini biasanya mengancam di perbukitan tandus. Bukit tandus ini ditumbuhi senak-semak sehingga memudahkan ular bersembunyi. Ada beragam jenis ular yang mengintai, tapi tidak usah cemas karena kehati-hatian dan keberanian adalah senjata utama. Menurut penjelasan Ibu Armi, ular tidaklah berniat menyerang manusia. Ular hanya membela diri. Maka agar tidak diganggu ular, janganlah kita menganggu ular lebih dulu. Lagi pula selama perjalanan kita tidak membawa antitoksin, kan?

Hadangan kedua, cuaca. Jika kita bepergian menuju Desa Taruba, jangan berharap hari hujan. Karena jalan berlumpur, daya pandang terbatas, hawa dingin menusuk telah siap mendera. Mobil four wheel drive pun tak mampu menembus beratnya medan. Bagi Ibu Irma yang telah berpengalaman sih, tetap bertahan di Taruba adalah pilihan terbaik meski harus menunggu sampai esok hari.

Itulah keseharian Ibu Armi yang penuh pengorbanan dan perjuangan. Kehidupan yang tidak seindah kepulauan Maluku Utara. Barangkali Ibu Armi belum pernah menikmati enaknya donat J-CO atau lezatnya Pizza Hut, tapi kehidupan Ibu Armi menggambarkan semangat seorang pejuang sejati. Yaitu semangat tetap berkarya dengan semua risiko, dan semangat untuk berbuat yang terbaik bagi orang lain apapun kodisi yang ada.

How about us? Are we struggle as Mrs Armi?

By Mas Nugi (Alumni Karisma yang sekarang bertugas di Manado)

Kisah ,

  1. July 18th, 2008 at 16:23 | #1

    Jadi ingat, LASKAR PELANGI nih.. hiks..hiks..

    Benar2 memotivasi… Jzk buat ceritanya mas !!

  2. August 14th, 2008 at 18:19 | #2

    subhanallah! jadi malu nich… kalau yang fasilitasnya lengkap malas-malasan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah bu Armi. Ok, semangat ya Maz? Gimana kabarnya maz dan mb indah di Manado sana? dah mau punya adek belum?

    Alhamdulillah, baik kabar kami… *halah* salah, yang harus njawab mas nugi + mbak indah nih… gmn mas-mbak? jangan lupa kami dikabari kalau udah ada momongan… siap kami prospek utk jadi kader Karisma kok..

  3. Nugi
    August 22nd, 2008 at 15:23 | #3

    Alhamdulillah sehat, Insya Allah tgl 25 Agustus besok Indah pulang ke Mgl. momongan?…..hmmm mo kondangan lagi ya? InsyaAllah syawal lahir ko.

    Alhamdulillah, kabarnya baik…semoga nanti anaknya sehat mas.. terus bisa juga meneruskan perjuangan agama dan bangsa ini…

  1. No trackbacks yet.